Buku ini lahir dari kegelisahan akademik mengenai adanya ketegangan (tension) yang tidak produktif antara pendekatan normatif-teologis (ilmu agama) dan pendekatan historis-empiris (ilmu umum/sosial-humaniora) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Kedua disiplin tersebut sering kali dinilai terpisah atau mengalami dikotomi keilmuan, seolah berjalan sendiri-sendiri tanpa titik temu.